Menggunjing atau membicarakan orang lain sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia pada saat ini. Justru tanpa menggunjing komunikasi dalam bermasyarakat seolah-olah seperti sayur tanpa garam. Hampir semua stasiun televisi pun memiliki segmen acara yang diandalkan dengan mengambil tema gosip (nama lain dari menggunjing). Di tempat-tempat kerja pun sudah menjadi keseharian apabila sudah beres pekerjaan sambil menunggu jam pulang, maka diisi dengan menggunjing. Maka di bulan Ramadhan ini, adalah saat yang tepat untuk mengingatkan kita akan hal-hal salah yang selama ini kita anggap benar karena sudah menjadi kelaziman di lingkungan masyarakat. Beberapa hadist di bawah ini menggambarkan mengenai menggunjing yang pernah terjadi di masa Rasulullah.
• Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bertanya pada sahabatnya: “ Tahukah kamu, apakah menggunjing itu?” Para sahabat menjawab :” Apabila kamu menyebut saudaramu (sesama muslim) dengan apa yang tidak ia sukai, maka berarti kamu menggunjingnya lalu (beliau) ditanya “ Bagaimana pendapatmu jika pada seseorang itu terdapat apa yang saya katakan?”. Beliau menjawab “ Jika padanya terdapat apa yang kamu katakan, maka berarti kamu menggunjing dan jika padanya tidak terdapat apa yang kamu katakan, berarti kamu menuduh yang bukan-bukan”
• Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. bahwa Nabi SAW bersabda : “ Pada malam akan dinaikkan ke langit ( Malam Isra dan Miraj ) akan melewati suatu kaum yang dipotong daging *** kemudian dimakankan kepadanya, lantas diucapkan kepada mereka “ Makanlah daging saudaramu yang dahulu kamu makan. Aku bertanya “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab ,”Mereka itu adalah umatmu yang suka mengumpat dan mencela (menggunjing)”
• Dari Jabir bin Abdillah r.a. , Nabi SAW berkata : Ketika kami bersama Nabi SAW tiba-tiba mencium bau busuk, maka Nabi SAW bertanya “Tahukah kamu bau apakah ini?” Ini bau mulut orang yang ghibah (menggunjing/mengumpat) orang-orang mu’minin.
• Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 12:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
• Anas bin Malik r.a. meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : Ada empat macam pekerjaan yang membatalkan puasa dan wudhu serta merusak (menghapus pahala) amal yaitu : menggunjing, berdusta, mengadu domba dan melihat keindahan wanita yang tidak halal baginya. Keempat hal itu menyuburkan bibit-bibit kejahatan sebagaimana air menyuburkan bibit-bibit tanaman dan meminum minuman keras melebihi dosa-dosa itu.
• Penggolongan hukum menggunjing :
o Kafir : Bila seseorang menggunjing saudaranya sesama muslim lalu diperingatkan “Jangan menggunjing” tetapi ia malah menjawab “ Ini bukan menggunjing, saya berkata apa adanya”
o Nifak : Bila seseorang menggunjing orang lain tanpa menyebut namanya, padahal sebenarnya yang diajak bicara mengetahui orang yang dimaksud dengan merasa bahwa diri yang menggunjing baik dan bersih
o Maksiat : bila seseorang menggunjing orang lain dengan menyebut nama dan memang orang yang digunjingkan itu berbuat maksiat seperti yang dikatakan.
o Mubah yang mendatangkan pahala : bila menggunjing orang fasik/ orang yang bid’ah, yang perbuatannya diketahui umum dengan maksud agar perbuatan maksiat / bid’ahnya itu dijauhi banyak orang. Hal ini berdasar sabda Nabi SAW : “ Sebarkanlah apa yang dikerjakan orang jahat agar orang-orang menjauhinya”
Sumber : Kitab Irsyadul ibad ilasabilirrasyad dan Tanbihul Ghafilin
Selasa, 14 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar