Selasa, 14 Oktober 2008

PUASA DAN KESEHATAN

Bulan Ramadhan tanpa terasa sudah kita masuki dan kita laksanakan. Bulan penuh sarana perbaikan, pengampunan dan keberkahan telah datang menghampiri kita. Sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah SWT karena kita masih diberikan nikmat iman dan sehat untuk melaksanakannya. Bulan ini lebih dari 1.79 miliar umat islam di dunia ini berpuasa atas nama Allah SWT dengan harapan untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Kenapa lebih dekat? Karena orang beriman yang berpuasa pada hakikatnya sudah mendekati sifatnya seperti malaikat. Malaikat bisa menjadi makhluk yang dekat dengan Allah karena tidak makan dan minum, tidak memiliki hawa nafsu dan banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itulah kenapa Allah benar-benar menempatkan hamba-Nya yang berpuasa pada derajat yang tinggi.
Berpuasa memiliki dimensi dan faktor intrinsik secara spiritual dan religi. Di saat yang bersamaan berpuasa yang mana direkomendasikan oleh semua agama juga memiliki keuntungan ditinjau dari sisi ilmiah maupun medis. Dahulu kalangan medis banyak yang berasumsi negatif tentang puasa ini, karena mereka lebih percaya dengan pengobatan modern. Tetapi ketika dunia medis mulai beralih cara pandangnya dari menyembuhkan penyakit ke pencegahan penyakit, puasa mulai banyak dipergunakan lagi sebagai bagian dari upaya medis tesebut. Ada beberapa penyakit yang saat ini belum dapat diobati dengan cara pengobatan konvensional seperti misalnya pengobatan infeksi virus, penyakit mental, penyakit degeneratif kronis, penyakit alergi dan otoimun, penyakit psikosomatis dan beberapa bentuk kanker, ternyata dengan melalukan puasa ternyata sedikit banyak dapat memperbaiki kualitas hidup pasien tersebut, bahkan bisa membuat orang yang sehat menjadi lebih sehat lagi.Beberapa hal yang didapatkan dari penelitian ilmiah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Puasa adalah sebuah operasi tanpa pembedahan
Berpuasa tanpa dapat disangkal adalah merupakan metode penatalaksanaan biologis yang paling efektif, yang bisa dikatakan sebagai operasi tanpa pembedahan. Hal ini merupakan proses penyembuhan yang melibatkan proses eksudasi, harmonisasi satu organ tubuh dengan organ yang lain, setting ulang, beristirahat dan relaksasi yang optimal. Saat berpuasa, pasien akan memperbaiki kesehatan fisik dan mentalnya. Sudah sekian ribu tahun lamanya, puasa merupakan cara yang palin cepat, efektif untuk mengurangi berat badan, detoksifikasi , penyembuhan dan memperpanjang kemungkinan harapan hidup baik dengan cara preventif maupun kuratif.
Alasannya adalah :
Seperti kita ketahui beruang, ikan paus yang bermigrasi atau kita lihat hewan yang lebih kecil, ikan salmon, landak, ular, salamander, laba-laba, kura-kura dapat hidup berbulan-bulan tanpa makan. Badan manusiapun secara brilian sudah didesain oleh Allah untuk dapat hidup dengan memanfaatkan substansi yang sudah ada disimpan dalam tubuh. Istilah yang menggambarkan proses ini adalah autolisis atau auto digesti. Hebatnya, badan dapat menguraikan dan membakar sel dan jaringan yang telah tua, rusak , berpenyakit , lemah bahkan yang sudah mati. Selama berpuasa, badan kita akan otolisis atau mencerna sendiri materi yang tidak dipakai dan sisa buangan metabolik, seperti : timbunan lemak, abses, sel-sel yang mati, jaringan yang rusak, abses, furunkel bahkan beberapa macam jenis keganasan juga bisa diperbaiki. Sel-sel tersebut didetoksifikasi dan melepaskan sel dan jaringan yang rusak ke sirkulasi untuk dihilangkan. Materi-materi toksik dan tidak diinginkan bersirkulasi di jaringan darah kita serta jaringan limfatik dan disimpan dalam bentuk jaringan lemak dan jaringan lain. Hal penting dalam detoksifikasi saat berpuasa adalah memobilisasi toksin dari tempat penyimpanan. Pembersihan besar – besaran ini akan berakhir di organ eliminasi manusia yaitu paru-paru, hati, ginjal dan kulit. Sel sel baru yang tumbuh selama puasa distimulasi dan diakselerasi pertumbuhannya. Beberapa unsur seperti karbohidrat dan protein disintesa ulang dari sel-sel yang terdekomposisi digunakan untuk meningkatkan sel-sel baru. Walau dalam kondisi puasa badan kita tetap dapat menggunakan protein dan nutrisi lain yang disimpan dalam tubuh kita dengan cerdik tanpa menurunkan nilai ambang batas normalnya. Dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa kebutuhan protein akan menurun selama puasa hingga minggu kedua, dari kebutuhan rata-rata 100 gram per hari hingga menjadi 15-20 gram per hari dan hal ini tetap mencukupi untuk aktifitas badan kita.
2. Berpuasa akan mengistirahatkan sistem pencernaan kita
Mungkin selama kita hidup, hanya puasa yang dapat membuat istirahat secara fisiologis pada sistem saluran cerna kita, dan organ asimilatif dan organ proteksi kita. Buah segar dan jus sayuran membutuhkan sedikit kerja fungsi saluran cerna dan dapat diserap dengan cepat di saluran cerna. Oleh karena itu lebih dari 10% dari energi kita terlibat dalam proses pengunyahan, asimilasi, pencernaan dan eliminasi itu dibebaskan. Sebagai tambahan, banyak jus buah dan sayuran yang dapat mensuplai energi yang baik, mineral, vitamin, enzim dan nutrisi lain yang penting untuk meningkatkan kesehatan selama puasa. Dengan menyediakan kalori sehari-hari untuk badan dengan jus yang mudah dicerna, maka pelepasan toksin dari sel lemak akan lebih baik dan bertahap. Ada penelitian yang menyatakan bahwa bila kita membatasi asupan kalori yang dapat dikonsumsi dan secara periodik dipuasakan maka akan secara signifikan memperpanjang hidup makhluk tersebut.
3. Puasa sebagai terapi nutrisi yang natural
Puasa adalah salah satu cara penyembuhan alami terhebat yang pernah ada. Hampir bisa dikatakan bahwa puasa adalah obat dari semua masalah. Hewanpun secara insting akan berpuasa jika sakit. Puasa bisa mengalirkan kembali energi yang terpendam, lebih kreatif dan lebih merasa hidup. Memang puasa yang dimaksud adalah untuk mengatur orang yang overnutrisi dibandingkan yang malnutrisi. Masalah penyalahgunaan diit, pola makan westernisasi di negara dunia ketiga, telah menumbuhkan berbagai macam penyakit degeneratif seperti atherosklerosis, hipertensi, penyakit jantung, alergi, diabetes dan kanker. Puasa dapat membantu menyembuhkan penyakit ini dan juga mencegahnya.
4. Hidup lebih baik dengan berpuasa
Para peneliti ilmiah sudah mempelajari bahwa efek dari berpuasa pada tubuh adalah bahwa asupan makanan akan meningkatkan metabolisme tubuh. Setelah berpuasa, metabolisme dapat turun 22 % dibandingkan normal. Penelitian juga menunjukkan bahwa dengan puasa yang lama, badan akan memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan sendiri dengan menurunkan tingkat metabolisme. Setelah puasa, orang tersebut juga harus melanjutkan makan secara bertahap. Puasa dapat meningkatkan responsifitas sel limfosit B yang dihasilkan oleh mukosa. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan orang yang divaksin dengan virus influenza dengan vaksin yang diminum. Ketika dianalisis ternyata ada peningkatan respon sel limfosit B pada pasien yang menerima vaksin secara oral.
5. Puasa pada ibu menyusui
Efek puasa dan peningkatan insulin darah dan glukosa pada volume air susu dan komposisinya dipelajari dengan metodologi Klem Glukosa secara eksklusif dan sebagian wanita menyusui. Ditemukan bahwa tidak ada efek pada volume air susum konsentrasi glukosa pada susu dan isi total lemak dan tingkat sekresi air susu. Disimpulkan bahwa produksi air susu ibu terpisah dari sistem mekanisme homeostatic yang mengontrol metabolisme glukosa di badan, karena sistem sintesis laktosa memiliki Km (The Michaelis constant Km adalah konsentrasi substrat pada tingkat ½ dari kecepatan maksimum ) untuk glukosa yang lebih rendah dibandingkan pada kompartemen Golgi .
6. Puasa dan penyembuhan badan
Beberapa penilitian telah dilakukan untuk mengobati penyakit yang serius seperti osteorematoid arthritis atau asma, telah menggunakan puasa dengan pengawasan medis untuk membantu badan menyembuhkan dirinya sendiri. Kita telah tahu bahwa anak-anak dan hewan menolak untuk makan saat sakit sebagai respon yang alami. Pasien dengan penyakit yang sangat berat akan tidak mempunyai nafsu makan dan mereka akan makan bila dipaksa oleh keluarganya. Orang yang sakit berat tidak akan merasa lapar dan akan menggunakan mekanisme puasa untuk memperbaiki fungsi tubuh. Dengan puasa maka pemulihan akan berjalan dan pusat perasa akan kembali normal sehingga bisa mempunyai rasa dengan normal. Namun, pada pasien dengan diabet yang insulin dependent tidak diwajibkan puasa karena pada pasien ini ada kendala untuk memecah keton sebagai sumber energi. Pada orang sehat akan menggunakan keton yang dihasilkan dari pemecahan lemak sebagai cadangan energi. Untuk menjaga jumlah penyimpanan glikogen, penggunaan glukosa pada susunan saraf pusat khususnya otak akan terbatas. Selain mengambil glukosa dari otak, badan akan mulai memecah asam lemak di jaringan lemak. Pasien diabet dengan non insulin dependent bisa menjalani puasa. Demikian juga dengan penyakit kardiovaskular, arthritis, asma , ulkus peptikum , gangguan saluran cerna ,penyakit kulit bahkan bisa dipakai sebaga sarana untuk melepas ketergantungan merokok

Tags: puasa, puasa dan kesehatan, puasa dan medis, puasa ibu menyusui, puasa ramadhan, puasa yang sehat, shaum

Tidak ada komentar: